google-site-verification: googlede9405c7cb17dca2.html Sang Pendaki Mimpi: Desember 2014 Sang Pendaki Mimpi: Desember 2014

Jasa Pengiriman

Kamis, 25 Desember 2014

Sifat Kepiting

Mungkin banyak yang tahu wujud kepiting, tapi tidak banyak yang tahu sifat kepiting. 

Semoga Anda tidak memiliki sifat kepiting yang dengki.

Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakan kepiting sawah. Kepiting itu ukurannya kecil namun rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu dengan mudah ditangkap di malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom/wadah, tanpa diikat.
Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus dan lalu disantap untuk lauk selama beberapa hari. Yang paling menarik dari kebiasaan ini, kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom, sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat.
Namun seorang penangkap kepiting yang handal selalu tenang meskipun hasil buruannya selalu berusaha meloloskan diri.
Resepnya hanya satu, yaitu si pemburu tahu betul sifat si kepiting.
Bila ada seekor kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar.
Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya akan menariknya turun… dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar.
Keesokan harinya sang pemburu tinggal merebus mereka semua dan matilah sekawanan kepiting yang dengki itu.
Begitu pula dalam kehidupan ini… tanpa sadar kita juga terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu.
Yang seharusnya bergembira jika teman atau saudara kita mengalami kesuksesan kita malahan mencurigai, jangan-jangan kesuksesan itu diraih dengan jalan yang nggak bener.
Apalagi di dalam bisnis atau hal lain yang mengandung unsur kompetisi, sifat iri, dengki, atau munafik akan semakin nyata dan kalau tidak segera kita sadari tanpa sadar kita sudah membunuh diri kita sendiri.
Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari bahwa di dalam bisnis atau persaingan yang penting bukan siapa yang menang, namun terlebih penting dari itu seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita seutuhnya. Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau bisa juga kalah dalam suatu persaingan, namun yang pasti kita menang dalam kehidupan ini.
Pertanda seseorang adalah ‘kepiting’:
1. Selalu mengingat kesalahan pihak luar (bisa orang lain atau situasi) yang sudah lampau dan menjadikannya suatu prinsip/pedoman dalam bertindak
2. Banyak mengkritik tapi tidak ada perubahan
3. Hobi membicarakan kelemahan orang lain tapi tidak mengetahui kelemahan dirinya sendiri sehingga ia hanya sibuk menarik kepiting-kepiting yang akan keluar dari baskom dan melupakan usaha pelolosan dirinya sendiri. ..Seharusnya kepiting-kepiting itu tolong-menolong keluar dari baskom, namun yah… dibutuhkan jiwa yang besar untuk melakukannya…
Coba renungkan berapa waktu yang Anda pakai untuk memikirkan cara-cara menjadi pemenang. Dalam kehidupan sosial, bisnis, sekolah, atau agama. Dan gantilah waktu itu untuk memikirkan cara-cara pengembangan diri Anda menjadi pribadi yang sehat dan sukses.
Betapa pun banyaknya kucing berkelahi, selalu saja banyak anak kucing lahir. (Abraham Lincol)
Sumber : safrie.wordpress.com

Photo Meiwy Gracella Ev. Gea


Saatnya Saya sudah Mualai bisa Merangkap dan mau merespon Pertanyaan Papa dan Mama

Kamis, 18 Desember 2014

CITA-CITAQ MENJADI SEORANG GURU

Ada banyak suka duka dalam menjalani sebuah profesi, tentunya tidak lain dengan profesi guru. Di mana Indonesia saat ini membutuhkan sistem pendidikan yang lebih baik demi menelurkan generasi pemenang di masa depan. Karena di saat kita tua nanti, merekalah yang akan memimpin bangsa ini. 
Seperti profesi lainnya, guru membutuhkan sesuatu yang lebih dari sebuah kualitas kerja, sesuatu itu datang dari hati. Profesi membutuhkan kebulatan tekad, hati yang utuh tidak setengah-setengah dan niat yang baik. Guru bukan hanya dituntut untuk mengajar mata pelajaran tertentu melainkan pula dituntut untuk mendidik generasi muda.
Apa yang ingin saya sampaikan saat ini adalah saya merasa bersalah. Ketika menjadi guru privat dan guru di bimbel, di masa-masa S1, saya merasa tujuan saya masih salah. Saya mengajar karena panggilan perut, bukan panggilan jiwa. Tentu mengenai ada pro dan kontra. Munafik jika kita mengatakan tidak membutuhkan uang, namun seharusnya bukan itu yang diutamakan. Saya merasa masih belum bisa konsisten menjaga niat sampai saat ini, hingga akhirnya saya memutuskan untuk berhenti mengajar, baik mengajar privat maupun bimbel sampai saat tulisan ini dibuat.
Sebagaimana seorang laki-laki tentunya ego itu berperan besar dalam kehidupannya. Saya menginginkan banyak hal dalam hidup. Ada banyak goal yang harus saya capai tahun ini, tahun depan, lusa, bahkan sampai usia senja. Salah satunya adalah memajukan pendidikan Indonesia. Saya mulai bisa memahami diri sendiri dan saya tentu tidak mau membohongi diri saya sendiri. Awalnya pemikiran saya tidak ingin menjadi guru sekolah, baik itu SD, SMP maupun SMA. Tapi keinginan memajukan pendidikan di Indonesia itu sangatlah besar. Saya yakin dengan apa yang saya jalani saat ini saya mampu mencapainya.

Impian saya di saat umur saya 23 tahun, saya berdiri di depan kelas sebuah sekolah menengah atas. Bukan sebagai seorang guru sekolah, namun sebagai guru saja. Saya tidak akan mengajarkan Fisika saat itu, tapi saya ingin mengajarkan bagaimana melangkah di usia muda, bagaimana belajar memahami diri sendiri, belajar menggantungkan cita-cita, belajar bangkit setelah badai berkali-kali menerpa, belajar meyakini kecerahan masa depan dan belajar untuk tetap tidak menyerah.

Saya ingin menjadi seorang guru.